Jangan Lakukan!
Larangan agar kita tak (suka) berbohong jelas dasar hukumnya, antara
lain: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang
yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah
orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl [16]: 105).
Nabi Muhammad SAW memasukkan perilaku bohong sebagai salah satu ciri
orang munafik. Tanda orang-orang munafik itu ada tiga. Pertama, jika
berkata-kata ia bohong atau dusta. Kedua, bila berjanji ia mengingkari.
Ketiga, saat diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya (HR
Bukhari dan Muslim).
Sungguh, jangan (suka) bohong, agar kita tak celaka dunia-akhirat!
Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi
banyak berdosa (QS Al-Jaatsiyah [45]: 7).
Jauhilah sifat senang bohong sebab Allah mengutuk orang yang banyak
berbohong. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta (QS
Adz-Dzaariyaat [51]: 10).
Tinggalkanlah sikap (suka) bohong, sebab jika itu kita lakukan, siksa
yang pedih di neraka menanti. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta (QS Al-Baqarah [2]: 10). Hendaklah kamu selalu benar.
Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke
surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat
di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta.
Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada
neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di
sisi Allah sebagai seorang pendusta / pembohong (HR Bukhari).
Suka berbohong bukanlah sifat seorang Mukmin. Jadi, jauhilah!
Seseorang yang membohongi temannya (atau, jika seseorang itu sedang
berstatus sebagai penguasa maka yang dibohongi adalah rakyatnya) adalah
pengkhianat besar. Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada
kawanmu dan dia memercayai kamu sepenuhnya, padahal dalam pembicaraan
itu kamu berbohong kepadanya. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Memang, di dalam keadaan tertentu (khusus) ada perkecualian yaitu
boleh berbohong. Berdasar HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud kita tahu
bahwa bohong itu diperkenankan hanya dalam tiga hal yaitu bohong untuk
mendamaikan perselisihan di antara manusia, bohong dalam (menyimpan
strategi) perang, dan bohong demi menguatkan keharmonisan pasangan
suami-istri.
Sebagai contoh, perhatikanlah riwayat berikut ini: Pada suatu ketika,
ada seseorang yang sedang mencari-cari musuhnya dan berniat akan
berkelahi dengannya. Kebetulan, dia berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW
yang sedang berdiri di sebuah tempat.
Bertanyalah orang itu kepada Nabi SAW, bahwa apakah Nabi SAW melihat
seseorang lewat di situ? Sebelum menjawab pertanyaan itu, Nabi SAW
menggeser posisi tempat berdirinya, dan barulah berkata bahwa, “Sejak
saya berdiri di sini, saya belum pernah melihat orang lain selain Anda.”
Tentu saja, apa yang disampaikan Nabi SAW itu memang benar secara
faktual! Bukankah sejak Nabi SAW berdiri di posisinya yang baru itu
beliau memang belum melihat orang lain selain orang yang bertanya itu?
Jadi, agar selamat dunia-akhirat, janganlah sekali-kali kita
berbohong kecuali dalam konteks tiga hal yang diperbolehkan seperti yang
dijelaskan di atas.
Rabu, 28 Oktober 2015
Selasa, 27 Oktober 2015
kuatkan dan beranikanlah hatimu itu !!!!!!
Saya
teringat beberapa waktu yang lalu membaca nasihat yang diberikan
seorang ayah kepada putranya ketika dia pergi jauh untuk melanjutkan
sekolah. “Jika pernah kamu mendapati dirimu di tempat yang seharusnya
kamu tidak berada, keluarlah!” Saya memberikan kepada setiap dari Anda
nasihat yang sama: “Jika pernah Anda mendapati diri Anda di tempat yang
seharusnya Anda tidak berada, keluarlah!”
Seruan
untuk keberanian datang secara terus-menerus kepada kita semua. Setiap
hari dalam kehidupan kita keberanian dibutuhkan—tidak hanya untuk
peristiwa-peristiwa yang sangat penting tetapi terlebih sering lagi
sewaktu kita membuat keputusan atau menanggapi situasi di sekeliling
kita. Kata penyair dan penulis novel Robert Louis Stevenson dari
Skotlandia: “Keberanian sehari-hari memiliki sedikit saksi. Tetapi
keberanian Anda tidak kurang mulianya karena tidak ada genderang yang
ditabuh bagi Anda dan tidak ada kerumunan orang yang menyerukan nama
Anda.”2
Keberanian
datang dalam banyak bentuk. Tulis penulis Kristen, Charles Swindoll:
“Keberanian tidaklah terbatas pada medan pertempuran … atau pada
keberanian menangkap pencuri di rumah Anda. Ujian sesungguhnya dari
keberanian jauh lebih tersamar. Itu adalah ujian batin, seperti tetap
setia meskipun tidak seorang pun melihat, … seperti berdiri sendirian
ketika Anda tidak dipahami.”3
Saya akan menambahkan bahwa keberanian batin ini juga mencakup
melakukan apa yang benar walaupun kita mungkin takut, membela
kepercayaan kita dengan risiko dicemoohkan, dan mempertahankan
kepercayaan tersebut bahkan ketika diancam dengan hilangnya teman-teman
atau status sosial. Dia yang berdiri dengan tabah bagi apa yang benar
mesti menghadapi risiko kadang menjadi tidak disukai dan tidak populer.
Sewaktu
melayani dalam Angkatan Laut Amerika Serikat dalam Perang Dunia II,
saya belajar mengenai perbuatan yang gagah berani, tindakan perkasa, dan
contoh keberanian. Satu yang tidak akan pernah saya lupakan adalah
keberanian diam-diam seorang pelaut yang berusia 18 tahun—bukan dari
kepercayaan kita—yang tidak terlalu sombong untuk berdoa. Dari 250 pria
di kelompok itu, dialah satu-satunya orang yang setiap malam berlutut di
samping tempat tidur tingkatnya, kadang di tengah-tengah cercaan para
pengganggu dan olokan orang yang tidak percaya. Dengan kepala tertunduk,
berdoa kepada Allah. Dia tidak pernah goyah. Dia tidak pernah ragu. Dia
memiliki keberanian.
Belum
lama sebelum ini saya mendengar contoh mengenai seorang yang tampaknya
jelas kurang memiliki keberanian batin ini. Seorang teman menceritakan
mengenai sebuah pertemuan sakramen yang rohani dan membangkitkan iman
yang dia hadiri bersama suaminya di lihgkungan mereka. Seorang remaja
putra yang memegang jabatan imam dalam Imamat Harun menyentuh hati
seluruh jemaat sewaktu dia berbicara mengenai kebenaran-kebenaran Injil
dan mengenai sukacita dari menaati perintah-perintah. Dia memberikan
kesaksian yang kuat, yang menyentuh hati ketika dia berdiri di mimbar,
terlihat bersih dan rapi dengan kemeja putih dan dasinya.
Belakangan
pada hari yang sama itu, sewaktu wanita ini dan suaminya berkendara
keluar dari lingkungan hunian mereka, mereka melihat pemuda yang sama
ini yang telah begitu mengilhami mereka beberapa jam sebelumnya. Akan
tetapi, sekarang dia menyajikan gambar yang sama sekali berbeda sewaktu
dia berjalan di trotoar dengan pakaian yang serampangan—dan menghisap
rokok. Teman saya dan suaminya tidak saja sangat kecewa dan sedih,
tetapi mereka juga bingung bagaimana dia dapat dengan begitu meyakinkan
menjadi orang yang satu dalam pertemuan sakramen dan kemudian dengan
begitu cepat tampak menjadi orang lain yang berbeda sama sekali.
Brother
sekalian, apakah Anda orang yang sama di mana pun Anda berada dan apa
pun yang Anda lakukan—orang yang Bapa Surgawi kita inginkan Anda menjadi
dan orang yang Anda tahu seharusnya Anda menjadi?
Dalam
sebuah wawancara yang diterbitkan di majalah nasional, pemain bola
basket NCAA Amerika yang terkenal, Jabari Parker, seorang anggota
Gereja, diminta untuk berbagi nasihat terbaik yang telah dia terima dari
ayahnya. Jawab Jabari, “[Ayah saya] berkata, ‘Jadilah orang yang sama
baik di dalam kegelapan atau di tempat terang.’”4 Nasihat yang penting, brother sekalian, bagi kita semua.
Tulisan
suci kita penuh dengan teladan mengenai jenis keberanian yang
dibutuhkan oleh kita masing-masing dewasa ini. Nabi Daniel menunjukkan
keberanian luar biasa dengan membela apa yang dia tahu adalah benar dan
dengan menunjukkan keberanian untuk berdoa, walaupun diancam dengan
kematian jika dia melakukannya.5
Keberanian
mencirikan kehidupan Abinadi, seperti yang ditunjukkan oleh kerelaannya
untuk menyerahkan nyawanya alih-alih menyangkal kebenaran.6
Siapa
yang tidak terinsiprasi oleh kehidupan 2.000 putra teruna Helaman, yang
mengajarkan dan menunjukkan perlunya keberanian untuk mengikuti
ajaran-ajaran orangtua, untuk suci dan murni?7
Mungkin
masing-masing kisah tulisan suci ini dilengkapi oleh teladan Moroni,
yang memiliki keberanian untuk tetap bertahan dalam kesalehan bahkan
sampai akhir.8
Sepanjang
kehidupannya, Nabi Joseph Smith memberikan banyak sekali contoh
mengenai keberanian. Salah satu yang paling dramatis terjadi sewaktu dia
dan para brother lainnya dirantai bersama—bayangkan, dirantai bersama
dan ditawan di dalam sebuah pondok yang belum rampung di sebelah gedung
pengadilan di Richmond, Missouri. Parley P. Pratt, yang berada di antara
mereka yang ditawan, menulis mengenai satu malam tertentu itu: “Kami
berbaring seolah-olah kami tertidur sampai lewat tengah malam, dan
telinga serta hati kami merasa tersakiti, sementara kami telah
mendengarkan selama berjam-jam ejekan-ejekan tidak pantas, sumpah
serapah kasar, hujatan-hujatan mengerikan dan bahasa kotor dari para
penjaga penjara kami.”
Penatua Pratt melanjutkan:
“Saya
mendengarkan sampai saya menjadi demikian jijik, terpukul, merasa
ngeri, dan begitu dipenuhi dengan semangat keadilan yang diliputi
kegeraman sehingga saya hampir tidak dapat menahan diri dari melompat
berdiri dan menghardik para penjaga itu; tetapi saya tidak berkata
apa–apa kepada Joseph, atau siapa pun juga, meskipun saya berbaring di
sampingnya dan tahu dia terjaga.Tiba-tiba dia bangkit berdiri, dan
berbicara dengan suara menggelegar, atau bagaikan singa yang mengaum,
mengutarakan, sejauh yang dapat saya ingat, kata-kata berikut:
“‘DIAM .… Dalam nama Yesus
Kristus saya menghardik Anda, dan memerintahkan Anda untuk diam; saya
tidak mau hidup satu menit lagi pun dan mendengarkan bahasa seperti itu.
Hentikan pembicaraan seperti itu, atau Anda atau saya akan mati SAAT
INI JUGA.’”
Joseph
“berdiri tegak dalam kemegahan yang mengerikan,” sebagaimana
digambarkan oleh Penatua Pratt. Dia dirantai, tanpa senjata, namun dia
tenang dan berwibawa. Dia memandang para penjaga yang menjadi gentar,
yang menciut ke suatu sudut atau meringkuk di kakinya. Orang-orang yang
tampaknya tidak dapat dikendalikan ini memohon ampunannya dan tetap
berdiam diri.9
Tidak
semua tindakan keberanian mendatangkan hasil yang luar biasa atau
langsung seperti itu, namun semuanya memang mendatangkan ketenangan
pikiran dan pengetahuan bahwa yang benar dan kebenaran telah dibela.
Adalah
mustahil untuk berdiri tegak ketika seseorang menanamkan akarnya pada
pasir yang bergeser berupa pendapat dan persetujuan populer. Yang
diperlukan adalah keberanian dari seorang Daniel, Abinadi, Moroni, atau
Joseph Smith agar kita tetap berpegang kuat dan teguh pada apa yang kita
tahu adalah benar. Mereka memiliki keberanian untuk melakukan bukan apa
yang mudah melainkan apa yang benar.
Kita
semua akan menghadapi rasa takut, mengalami cemoohan, dan menemui
pertentangan. Marilah kita memiliki keberanian untuk menentang
konsensus, keberanian untuk membela prinsip. Keberanian, bukan kompromi,
mendatangkan senyuman persetujuan Allah. Keberanian menjadi kebajikan
yang hidup dan menawan ketika dihargai tidak saja sebagai kerelaan untuk
mati secara jantan, tetapi sebagai tekad untuk hidup dengan pantas.
Sewaktu kita bergerak maju, berusaha untuk hidup sebagaimana yang
seharusnya, kita pasti akan menerima pertolongan dari Tuhan dan dapat
menemukan penghiburan dalam firman-Nya. Saya menyukai janji-Nya yang
tercatat dalam kitab Yosua:
“Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau .…
…
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu; janganlah kecut dan tawar hati: sebab
Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”10
Brother
sekalian yang terkasih, dengan keberanian akan keyakinan kita, semoga
kita menyatakan, bersama Rasul Paulus, “Sebab aku mempunyai keyakinan
yang kokoh dalam Injil.”11
Dan kemudian, dengan keberanian yang sama itu, semoga kita mengikuti
nasihat Paulus: “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam
perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan
dalam kesucianmu.”12
Konflik-konflik
yang menghancurkan datang dan pergi, tetapi perang untuk mengendalikan
jiwa-jiwa manusia berlanjut tanpa henti. Bagaikan seruan nyaring
datanglah firman Tuhan kepada Anda, kepada saya, dan kepada para
pemegang imamat di mana pun: “Karenanya, sekarang biarlah setiap pria
mempelajari kewajibannya, dan bertindak pada jabatan yang di dalamnya
dia ditetapkan, dengan segenap ketekunan.”13 Maka kita akan menjadi, seperti yang dinyatakan Rasul Petrus, bahkan “imamat yang rajani,”14 disatukan dalam tujuan dan diberkahi dengan kuasa dari tempat yang tinggi.15
Minggu, 25 Oktober 2015
masalah dalam berniat
- Niat adalah amalan hati, tidak bisa digantikan dengan yang lainnya… oleh karenanya bila seorang memulai ihromnya dengan melafalkan “Labbaikallohumma hajja” tanpa terbetik niat masuk ihrom haji di hatinya, maka ihrom hajinya tidak sah… Sebaliknya jika ia telah niat dalam hatinya tanpa melafalkan talbiyah, maka niat ihromnya sudah sah… Apabila ada perselisihan antara hati dan lisan… Hatinya ingin niat haji, tapi yang terucap “Labbaikallohu umroh”, maka yang dianggap sah adalah niat yang di hati… karena niat adalah amalan hati, tidak bisa digantikan dengan yang lainny
- Ada dua fungsi dalam niat: (a) Untuk membedakan antara amalan ukhrowi (ibadah) dengan amalan duniawi (adat)… misalnya: Antara mandi junub, dengan mandi untuk menyegarkan badan… Perakteknya sama persis, tapi karena niatnya beda, yang mandi junub jadi amalan ibadah (berpahala), sedang mandi untuk menyegarkan badan tidak jadi ibadah… (b) Untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya… misalnya: Sholat Qobliyah Subuh dengan Sholat Subuh, prakteknya sama persis (bagi mereka yang tidak qunut)… yang membedakan hanyalah niatnya, hingga yang satu jadi ibadah sunat, sedang yang lain jadi ibadah wajib…. Begitu pula puasa nadzar hari senin dengan puasa sunat hari senin… prakteknya sama persis, tapi karena niatnya beda, puasa nadzar jadi ibadah wajib, dan yang lainnya jadi ibadah sunat… dst…
- Syarat niat ada 6: (a) Islam, oleh karenanya niat ibadah tidak akan sah dari orang non muslim… (b)Ikhlas, oleh karenanya ibadah tidak akan berpahala jika niatnya riya’… (c) Tamyiz, sehingga niat anak kecil yang belum tamyiz (bisa membedakan mana yang baik dan buruk) tidak sah, oleh karenanya hajinya anak kecil harus dengan niat orang yang membawanya… (d) Tahu amalannya, karena bagaimana niat kita sempurna tanpa tahu amalan yang akan kita kerjakan… (e)Waktu niat. Hendaknya niat sebisa mungkin dilakukan berdekatan dengan awal amalan, lebih dekat awal amalan lebih baik. Oleh karenanya tidak sah niat puasa romadhon pada bulan sya’ban, tidak sah niat sholat dhuhur sebelum masuk waktunya, dst… (f) Tidak adanya sesuatu yang menafikanya, seperti: ragu-ragu, atau memotongnya, atau mencampurnya dengan hal lain yang bisa membatalkannya.
Sabtu, 24 Oktober 2015
SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA
Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;
- Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.
- Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.
- Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni; sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya. Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.
Senin, 12 Oktober 2015
HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA
- Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul ? Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit.
- Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak” Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahan itu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dan tanggungjawab manusia.
- Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka.
- Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita, atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh; ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana.
- Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.
Rabu, 07 Oktober 2015
dahsyatnya berdzikir
Kekuatan Dzikir
Dzikir itu dahsyat.
Semakin saya paham tentang cara kerja
pikiran, semakin banyak hikmah yang bisa ditemukan dari berbagai ibadah ritual
dalam agama Islam. Salah satunya ialah hikmah dari dzikir. Dzikir adalah salah
satu pelatihan yang hebat dalam melatih kualitas pribadi umat Islam baik secara
ukhrawi maupun duniawi. Kita akan mendapatkan hasil ganda dari dzikir yang kita
lakukan.
Untuk
memahami makna dzikir secara ukhrawi mungkin kita perlu bertanya kepada
ustadz Arifin Ilham. Saat ini saya akan membahas bagaimana hikmah dzikir
terhadap kehidupan dunia kita. Ternyata dzikir memberikan makna luar
biasa kepada kehidupan kita. Selain hati kita menjadi lebih bening, dzikir akan
melatih semangat kita menjadi lebih dahsyat untuk meraih prestasi.
Seperti yang
saya bahas dalam artikel Tumaninah Dalam Shalat, ketenangan dalam melakukan
sesuatu akan memberikan kemampuan kita mengendalikan pikiran kita. Jika kita
melakukan dzikir dengan khusyu’ maka ini akan memberikan latihan yang
sangat luar biasa dalam pengendalian pikiran kita.
Bukan hanya
itu, makna yang terkandung dari kalimat-kalimat dzikir akan masuk ke
dalam pikiran bawah sadar kita sehingga bisa membentuk akhlaq mulia dalam
kehidupan kita. Jika kita melakukan dzikir dengan cara yang benar, tenang, dan
sambil menghayati setiap makna dari semua yang kita ucapkan, maka ini adalah
suatu bentuk amalan yang sangat luar biasa.
Dengan dzikir
bisa membuat kita menjadi Muslim yang lebih shalih. Dengan dzikir bisa membuat
kita menjadi Muslim yang kuat, jenius, dan memiliki motivasi tinggi dalam
melakukan berbagai hal dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak akan pernah
malas lagi dalam melakukan berbagai ibadah baik ibadah ritual dan ibadah
muamalah.
Sungguh, dzikir
adalah suatu metode yang sangat hebat. Tidak ada metode yang dihasilkan oleh
para ahli pengembangan diri melebihi dzikir. Namun sayang, sekali lagi, kita
sering menyia-nyiakan rahmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Masih
banyak orang yang belum melakukan dzikir dengan benar, bukti nyatanya ialah
bagaimana kualitas umat Islam saat ini.
Adalah benar
kata para mujahid, bahwa kemunduran umat Islam karena umatnya yang meninggalkan
ajaran agama Islam. Bukan agama Islam yang menjadi masalah, tetapi karena
justru kita yang meninggalkan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin
kita belum melakukan ibadah yang melibat ruh kita. Marilah kita kembali ke
dalam ajaran Islam secara kaaffah, salah satunya dengan rajin dzikir.
Sabtu, 03 Oktober 2015
Bismillah... Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan di dalam telur berakhir.
Tapi jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah LAHIR.
HAL-HAL BESAR selalu dimulai DARI DALAM.
TUHAN tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, Bunga selalu mekar, dan Mentari selalu bersinar.
Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata, Berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa.
Jangan pernah menyerah sahabat, Terus berjuanglah.
“Life is so beautiful”.
Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan maka nikmatilah.
•Hidup adalah tantangan, hadapilah.
•Hidup adalah anugerah, terimalah.
•Hidup adalah pertandingan, menangkanlah.
•Hidup adalah tugas, selesaikanlah.
•Hidup adalah cita-cita, capailah.
•Hidup adalah misteri, singkapkanlah.
•Hidup adalah kesempatan, ambillah.
•Hidup adalah lagu, nyanyikanlah.
•Hidup adalah janji, penuhilah.
•Hidup adalah keindahan, bersyukurlah.
•Hidup adalah teka-teki, pecahkanlah.
- 1 hal yang buat kita Bahagia adalah CINTA,
- 1 hal yang buat kita tambah Dewasa adalah MASALAH,
- 1 hal yang buat kita Hancur adalah PUTUS ASA,
- 1 hal yang buat kita Maju adalah USAHA,
- 1 hal yang buat kita Kuat adalah DOA (harapan).
Subhanallah...
Langganan:
Postingan (Atom)




