Saya
teringat beberapa waktu yang lalu membaca nasihat yang diberikan
seorang ayah kepada putranya ketika dia pergi jauh untuk melanjutkan
sekolah. “Jika pernah kamu mendapati dirimu di tempat yang seharusnya
kamu tidak berada, keluarlah!” Saya memberikan kepada setiap dari Anda
nasihat yang sama: “Jika pernah Anda mendapati diri Anda di tempat yang
seharusnya Anda tidak berada, keluarlah!”
Seruan
untuk keberanian datang secara terus-menerus kepada kita semua. Setiap
hari dalam kehidupan kita keberanian dibutuhkan—tidak hanya untuk
peristiwa-peristiwa yang sangat penting tetapi terlebih sering lagi
sewaktu kita membuat keputusan atau menanggapi situasi di sekeliling
kita. Kata penyair dan penulis novel Robert Louis Stevenson dari
Skotlandia: “Keberanian sehari-hari memiliki sedikit saksi. Tetapi
keberanian Anda tidak kurang mulianya karena tidak ada genderang yang
ditabuh bagi Anda dan tidak ada kerumunan orang yang menyerukan nama
Anda.”2
Keberanian
datang dalam banyak bentuk. Tulis penulis Kristen, Charles Swindoll:
“Keberanian tidaklah terbatas pada medan pertempuran … atau pada
keberanian menangkap pencuri di rumah Anda. Ujian sesungguhnya dari
keberanian jauh lebih tersamar. Itu adalah ujian batin, seperti tetap
setia meskipun tidak seorang pun melihat, … seperti berdiri sendirian
ketika Anda tidak dipahami.”3
Saya akan menambahkan bahwa keberanian batin ini juga mencakup
melakukan apa yang benar walaupun kita mungkin takut, membela
kepercayaan kita dengan risiko dicemoohkan, dan mempertahankan
kepercayaan tersebut bahkan ketika diancam dengan hilangnya teman-teman
atau status sosial. Dia yang berdiri dengan tabah bagi apa yang benar
mesti menghadapi risiko kadang menjadi tidak disukai dan tidak populer.
Sewaktu
melayani dalam Angkatan Laut Amerika Serikat dalam Perang Dunia II,
saya belajar mengenai perbuatan yang gagah berani, tindakan perkasa, dan
contoh keberanian. Satu yang tidak akan pernah saya lupakan adalah
keberanian diam-diam seorang pelaut yang berusia 18 tahun—bukan dari
kepercayaan kita—yang tidak terlalu sombong untuk berdoa. Dari 250 pria
di kelompok itu, dialah satu-satunya orang yang setiap malam berlutut di
samping tempat tidur tingkatnya, kadang di tengah-tengah cercaan para
pengganggu dan olokan orang yang tidak percaya. Dengan kepala tertunduk,
berdoa kepada Allah. Dia tidak pernah goyah. Dia tidak pernah ragu. Dia
memiliki keberanian.
Belum
lama sebelum ini saya mendengar contoh mengenai seorang yang tampaknya
jelas kurang memiliki keberanian batin ini. Seorang teman menceritakan
mengenai sebuah pertemuan sakramen yang rohani dan membangkitkan iman
yang dia hadiri bersama suaminya di lihgkungan mereka. Seorang remaja
putra yang memegang jabatan imam dalam Imamat Harun menyentuh hati
seluruh jemaat sewaktu dia berbicara mengenai kebenaran-kebenaran Injil
dan mengenai sukacita dari menaati perintah-perintah. Dia memberikan
kesaksian yang kuat, yang menyentuh hati ketika dia berdiri di mimbar,
terlihat bersih dan rapi dengan kemeja putih dan dasinya.
Belakangan
pada hari yang sama itu, sewaktu wanita ini dan suaminya berkendara
keluar dari lingkungan hunian mereka, mereka melihat pemuda yang sama
ini yang telah begitu mengilhami mereka beberapa jam sebelumnya. Akan
tetapi, sekarang dia menyajikan gambar yang sama sekali berbeda sewaktu
dia berjalan di trotoar dengan pakaian yang serampangan—dan menghisap
rokok. Teman saya dan suaminya tidak saja sangat kecewa dan sedih,
tetapi mereka juga bingung bagaimana dia dapat dengan begitu meyakinkan
menjadi orang yang satu dalam pertemuan sakramen dan kemudian dengan
begitu cepat tampak menjadi orang lain yang berbeda sama sekali.
Brother
sekalian, apakah Anda orang yang sama di mana pun Anda berada dan apa
pun yang Anda lakukan—orang yang Bapa Surgawi kita inginkan Anda menjadi
dan orang yang Anda tahu seharusnya Anda menjadi?
Dalam
sebuah wawancara yang diterbitkan di majalah nasional, pemain bola
basket NCAA Amerika yang terkenal, Jabari Parker, seorang anggota
Gereja, diminta untuk berbagi nasihat terbaik yang telah dia terima dari
ayahnya. Jawab Jabari, “[Ayah saya] berkata, ‘Jadilah orang yang sama
baik di dalam kegelapan atau di tempat terang.’”4 Nasihat yang penting, brother sekalian, bagi kita semua.
Tulisan
suci kita penuh dengan teladan mengenai jenis keberanian yang
dibutuhkan oleh kita masing-masing dewasa ini. Nabi Daniel menunjukkan
keberanian luar biasa dengan membela apa yang dia tahu adalah benar dan
dengan menunjukkan keberanian untuk berdoa, walaupun diancam dengan
kematian jika dia melakukannya.5
Keberanian
mencirikan kehidupan Abinadi, seperti yang ditunjukkan oleh kerelaannya
untuk menyerahkan nyawanya alih-alih menyangkal kebenaran.6
Siapa
yang tidak terinsiprasi oleh kehidupan 2.000 putra teruna Helaman, yang
mengajarkan dan menunjukkan perlunya keberanian untuk mengikuti
ajaran-ajaran orangtua, untuk suci dan murni?7
Mungkin
masing-masing kisah tulisan suci ini dilengkapi oleh teladan Moroni,
yang memiliki keberanian untuk tetap bertahan dalam kesalehan bahkan
sampai akhir.8
Sepanjang
kehidupannya, Nabi Joseph Smith memberikan banyak sekali contoh
mengenai keberanian. Salah satu yang paling dramatis terjadi sewaktu dia
dan para brother lainnya dirantai bersama—bayangkan, dirantai bersama
dan ditawan di dalam sebuah pondok yang belum rampung di sebelah gedung
pengadilan di Richmond, Missouri. Parley P. Pratt, yang berada di antara
mereka yang ditawan, menulis mengenai satu malam tertentu itu: “Kami
berbaring seolah-olah kami tertidur sampai lewat tengah malam, dan
telinga serta hati kami merasa tersakiti, sementara kami telah
mendengarkan selama berjam-jam ejekan-ejekan tidak pantas, sumpah
serapah kasar, hujatan-hujatan mengerikan dan bahasa kotor dari para
penjaga penjara kami.”
Penatua Pratt melanjutkan:
“Saya
mendengarkan sampai saya menjadi demikian jijik, terpukul, merasa
ngeri, dan begitu dipenuhi dengan semangat keadilan yang diliputi
kegeraman sehingga saya hampir tidak dapat menahan diri dari melompat
berdiri dan menghardik para penjaga itu; tetapi saya tidak berkata
apa–apa kepada Joseph, atau siapa pun juga, meskipun saya berbaring di
sampingnya dan tahu dia terjaga.Tiba-tiba dia bangkit berdiri, dan
berbicara dengan suara menggelegar, atau bagaikan singa yang mengaum,
mengutarakan, sejauh yang dapat saya ingat, kata-kata berikut:
“‘DIAM .… Dalam nama Yesus
Kristus saya menghardik Anda, dan memerintahkan Anda untuk diam; saya
tidak mau hidup satu menit lagi pun dan mendengarkan bahasa seperti itu.
Hentikan pembicaraan seperti itu, atau Anda atau saya akan mati SAAT
INI JUGA.’”
Joseph
“berdiri tegak dalam kemegahan yang mengerikan,” sebagaimana
digambarkan oleh Penatua Pratt. Dia dirantai, tanpa senjata, namun dia
tenang dan berwibawa. Dia memandang para penjaga yang menjadi gentar,
yang menciut ke suatu sudut atau meringkuk di kakinya. Orang-orang yang
tampaknya tidak dapat dikendalikan ini memohon ampunannya dan tetap
berdiam diri.9
Tidak
semua tindakan keberanian mendatangkan hasil yang luar biasa atau
langsung seperti itu, namun semuanya memang mendatangkan ketenangan
pikiran dan pengetahuan bahwa yang benar dan kebenaran telah dibela.
Adalah
mustahil untuk berdiri tegak ketika seseorang menanamkan akarnya pada
pasir yang bergeser berupa pendapat dan persetujuan populer. Yang
diperlukan adalah keberanian dari seorang Daniel, Abinadi, Moroni, atau
Joseph Smith agar kita tetap berpegang kuat dan teguh pada apa yang kita
tahu adalah benar. Mereka memiliki keberanian untuk melakukan bukan apa
yang mudah melainkan apa yang benar.
Kita
semua akan menghadapi rasa takut, mengalami cemoohan, dan menemui
pertentangan. Marilah kita memiliki keberanian untuk menentang
konsensus, keberanian untuk membela prinsip. Keberanian, bukan kompromi,
mendatangkan senyuman persetujuan Allah. Keberanian menjadi kebajikan
yang hidup dan menawan ketika dihargai tidak saja sebagai kerelaan untuk
mati secara jantan, tetapi sebagai tekad untuk hidup dengan pantas.
Sewaktu kita bergerak maju, berusaha untuk hidup sebagaimana yang
seharusnya, kita pasti akan menerima pertolongan dari Tuhan dan dapat
menemukan penghiburan dalam firman-Nya. Saya menyukai janji-Nya yang
tercatat dalam kitab Yosua:
“Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau .…
…
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu; janganlah kecut dan tawar hati: sebab
Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”10
Brother
sekalian yang terkasih, dengan keberanian akan keyakinan kita, semoga
kita menyatakan, bersama Rasul Paulus, “Sebab aku mempunyai keyakinan
yang kokoh dalam Injil.”11
Dan kemudian, dengan keberanian yang sama itu, semoga kita mengikuti
nasihat Paulus: “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam
perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan
dalam kesucianmu.”12
Konflik-konflik
yang menghancurkan datang dan pergi, tetapi perang untuk mengendalikan
jiwa-jiwa manusia berlanjut tanpa henti. Bagaikan seruan nyaring
datanglah firman Tuhan kepada Anda, kepada saya, dan kepada para
pemegang imamat di mana pun: “Karenanya, sekarang biarlah setiap pria
mempelajari kewajibannya, dan bertindak pada jabatan yang di dalamnya
dia ditetapkan, dengan segenap ketekunan.”13 Maka kita akan menjadi, seperti yang dinyatakan Rasul Petrus, bahkan “imamat yang rajani,”14 disatukan dalam tujuan dan diberkahi dengan kuasa dari tempat yang tinggi.15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar