Rabu, 28 Oktober 2015

jangan ada dusta diantara kita !!

Jangan Lakukan!
Larangan agar kita tak (suka) berbohong jelas dasar hukumnya, antara lain: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl [16]: 105).
Nabi Muhammad SAW memasukkan perilaku bohong sebagai salah satu ciri orang munafik. Tanda orang-orang munafik itu ada tiga. Pertama, jika berkata-kata ia bohong atau dusta. Kedua, bila berjanji ia mengingkari. Ketiga, saat diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya (HR Bukhari dan Muslim).
Sungguh, jangan (suka) bohong, agar kita tak celaka dunia-akhirat! Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa (QS Al-Jaatsiyah [45]: 7).
Jauhilah sifat senang bohong sebab Allah mengutuk orang yang banyak berbohong. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 10).
Tinggalkanlah sikap (suka) bohong, sebab jika itu kita lakukan, siksa yang pedih di neraka menanti. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS Al-Baqarah [2]: 10). Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta / pembohong (HR Bukhari).
Suka berbohong bukanlah sifat seorang Mukmin. Jadi, jauhilah! Seseorang yang membohongi temannya (atau, jika seseorang itu sedang berstatus sebagai penguasa maka yang dibohongi adalah rakyatnya) adalah pengkhianat besar. Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia memercayai kamu sepenuhnya, padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Memang, di dalam keadaan tertentu (khusus) ada perkecualian yaitu boleh berbohong. Berdasar HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud kita tahu bahwa bohong itu diperkenankan hanya dalam tiga hal yaitu bohong untuk mendamaikan perselisihan di antara manusia, bohong dalam (menyimpan strategi) perang, dan bohong demi menguatkan keharmonisan pasangan suami-istri.
Sebagai contoh, perhatikanlah riwayat berikut ini: Pada suatu ketika, ada seseorang yang sedang mencari-cari musuhnya dan berniat akan berkelahi dengannya. Kebetulan, dia berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW yang sedang berdiri di sebuah tempat.
Bertanyalah orang itu kepada Nabi SAW, bahwa apakah Nabi SAW melihat seseorang lewat di situ? Sebelum menjawab pertanyaan itu, Nabi SAW menggeser posisi tempat berdirinya, dan barulah berkata bahwa, “Sejak saya berdiri di sini, saya belum pernah melihat orang lain selain Anda.”
Tentu saja, apa yang disampaikan Nabi SAW itu memang benar secara faktual! Bukankah sejak Nabi SAW berdiri di posisinya yang baru itu beliau memang belum melihat orang lain selain orang yang bertanya itu?
Jadi, agar selamat dunia-akhirat, janganlah sekali-kali kita berbohong kecuali dalam konteks tiga hal yang diperbolehkan seperti yang dijelaskan di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar