Jangan Lakukan!
Larangan agar kita tak (suka) berbohong jelas dasar hukumnya, antara
lain: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang
yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah
orang-orang pendusta.” (QS An-Nahl [16]: 105).
Nabi Muhammad SAW memasukkan perilaku bohong sebagai salah satu ciri
orang munafik. Tanda orang-orang munafik itu ada tiga. Pertama, jika
berkata-kata ia bohong atau dusta. Kedua, bila berjanji ia mengingkari.
Ketiga, saat diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya (HR
Bukhari dan Muslim).
Sungguh, jangan (suka) bohong, agar kita tak celaka dunia-akhirat!
Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi
banyak berdosa (QS Al-Jaatsiyah [45]: 7).
Jauhilah sifat senang bohong sebab Allah mengutuk orang yang banyak
berbohong. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta (QS
Adz-Dzaariyaat [51]: 10).
Tinggalkanlah sikap (suka) bohong, sebab jika itu kita lakukan, siksa
yang pedih di neraka menanti. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan
mereka berdusta (QS Al-Baqarah [2]: 10). Hendaklah kamu selalu benar.
Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke
surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat
di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap dusta.
Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada
neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di
sisi Allah sebagai seorang pendusta / pembohong (HR Bukhari).
Suka berbohong bukanlah sifat seorang Mukmin. Jadi, jauhilah!
Seseorang yang membohongi temannya (atau, jika seseorang itu sedang
berstatus sebagai penguasa maka yang dibohongi adalah rakyatnya) adalah
pengkhianat besar. Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada
kawanmu dan dia memercayai kamu sepenuhnya, padahal dalam pembicaraan
itu kamu berbohong kepadanya. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Memang, di dalam keadaan tertentu (khusus) ada perkecualian yaitu
boleh berbohong. Berdasar HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud kita tahu
bahwa bohong itu diperkenankan hanya dalam tiga hal yaitu bohong untuk
mendamaikan perselisihan di antara manusia, bohong dalam (menyimpan
strategi) perang, dan bohong demi menguatkan keharmonisan pasangan
suami-istri.
Sebagai contoh, perhatikanlah riwayat berikut ini: Pada suatu ketika,
ada seseorang yang sedang mencari-cari musuhnya dan berniat akan
berkelahi dengannya. Kebetulan, dia berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW
yang sedang berdiri di sebuah tempat.
Bertanyalah orang itu kepada Nabi SAW, bahwa apakah Nabi SAW melihat
seseorang lewat di situ? Sebelum menjawab pertanyaan itu, Nabi SAW
menggeser posisi tempat berdirinya, dan barulah berkata bahwa, “Sejak
saya berdiri di sini, saya belum pernah melihat orang lain selain Anda.”
Tentu saja, apa yang disampaikan Nabi SAW itu memang benar secara
faktual! Bukankah sejak Nabi SAW berdiri di posisinya yang baru itu
beliau memang belum melihat orang lain selain orang yang bertanya itu?
Jadi, agar selamat dunia-akhirat, janganlah sekali-kali kita
berbohong kecuali dalam konteks tiga hal yang diperbolehkan seperti yang
dijelaskan di atas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar